Bantah-Bantahan Antara Salafi VS Jamaah Muslimin Hizbullah [Part II]

BANTAHAN BUAT ABU AZI dan KAWAN-KAWAN
PERTOLONGAN PADANYA ATAS SYUBHAT KHILAFAH WALI AL FATAH Bagian II

Posted on April 2, 2007 by Abu Salma Mohamad Fachrurozi
Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi
 Alhamdulillah, Saya bersyukur masih ada orang-orang di Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang komitmen kepada Sunnah sebagaimana akhuna Abu Azi. Dalam banyak hal beliau sepakat dengan saya sebagaimana ucapannya ”Bahwasanya Dakwah para Nabi hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, selain Kalimatut Tauhid adalah ana Nabiyullah atau ‘abduhu wa rasuluhu, Waasyhadu anna Muhammadun rasulullah, begitu pula masa khulafaur rasyidin dakwah ilallah wa ilaa rasulillah dan juga sistem kekhilafahannya.”

Alenia yang saya nukil tersebut benar adanya, dan saya telah sepakat. Namun ada satu perbedaan, yaitu pada cara saya dan cara Abu Azi tempuh untuk mendakwahkan dan mewujudkan sistem kekhilafahan. Abu Azi memperjuangkan Sistem Khilafah mengikuti Wali Al Fatah sedangkan saya Insya Allah berusaha memperjuangkan sistem khilafah dengan bimbing dan penjelasan-penjelasan ulama-ulama ahlussunnah. (Insya Allah).
Jadi sekali lagi, kami tidaklah menafikkan sistem khilafah, bahkan kamipun akan terus berjuang terutama, mendidik pribadi saya, istri dan anak-anak agar terus komitmen dengan Islam dalam segala perkara termasuk juga sistem khilafah yang merupakan bagian dari Islam.
Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk segera memberi pertolongan padanya, walaupun sesungguhnya ada agenda lain yang harus saya tulis. Sungguh saya iba, melihat generasi muda yang notabene adalah harapan kaum muslimin terjebak pemikiran Wali Al Fatah. Sehingga di antara mereka terkungkung dalam pemahaman yang baku buatan Wali Al Fatah1 dan tak mampu keluar sedikitpun dari koridor tersebut.
Diantara syubhat yang mereka banggakan dan sangat diyakini kebenarannya bagi pengagum Wali Al Fatah adalah peristiwa ditundanya Jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Berulang-ulang mereka mengatakan “…….Sebab betapa pentingnya masalah kepemimpinan ini sehingga pemakaman jenazah Rasulullah saja tertunda hingga hari Kamis padahal seharusnya disegerakan, Begitu pembai’atan Abu Bakar barulah jenazah beliau dikuburkan dibawah komando khalifah Abu Bakar, termasuk amanat melanjutkan jihad qital kepada Usama yang sempat terhenti tatkala mendengar khabar wafatnya Rasulullah, atau memerangi nabi palsu dan memerangi orang2 yang tiada mau berzakat.dan lain2nya. Sama halnya para pelanjutnya hingga para mulkan/sulthan pun begitu (yang baik dan ‘adil). Fa’alaikum bisunnatii wasunnatil khulafaur rasyidin almahdiyyin.“
Begitulah atau semisalnya kalimat itu diusung kemana-mana untuk mengajak kaum muslimin berbai’at kepada Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Walaupun Imamnya sama sekali tidak berfungsi sebagaimana Kholifah atau sulthon yang pernah ada.
Bahkan Kholifahnya tidak memiliki kekuasaan sama sekali, Apalagi jihad kital, mencegah anggotanya dari minum khomr, merokok, jual barang haram dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lainnya sedikitpun tidak mampu. Anehnya kemana-mana mereka mengatakan bahwa Imamnya adalah Kholifah yang seluruh kaum muslimin wjib membai’atnya. Ini menggelikan.
Coba tanyalah kepada siapapun termasuk harokah-harokah pejuang khilafah yang lain. Dapatkah imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) disebut Kholifah ? Pasti jawabnya tidak bisa.
Walaupun saya tidak sepakat dengan HT atau IM dalam cara memperjuangkan khilafah, namun dalam mendefinisikan khilafah Insya Allah tidak ada perbedaan. Saya, HT dan IM serta kelompok-kelompok lain seperti MMI dan yang lainnya sepakat bahwa khilafah Islamiyah adalah suatu hal yang sangat urgen perlu terus diperjuangkan. Dan yang dimaksud Kholafah oleh semua kelompok itu adalah Seorang pemimpin yang menyatukan kaum muslimin, yang menguasai kaum muslimin, yang menghukumi kaum muslimin jika terjadi pelanggara-pelanggaran, Dan dapat membela kaum muslimin dari tindakan-tindakan orang kafir dan mush-musuh islam lainnya. Dan terutama adalah menjaga keamanan kaum mulimin beribadah mengabdi kepada Sang Kholiq.
Dengan posisi kholifah seperti inilah islam menjadi Rahmatan Lil ‘alamin, yaitu menjaga darah, menjaga harta, menjaga kehormatan, menjaga keadailan dan menjaga hak-hak asasi manusia termasuk hak-hak beragama orang-orang kafir asalkan mau membayar jizah pada penguasa kaum muslimin.
Sungguh mereka (Wali Al Fatah dan pengikutnya) mengabaikan fungsi Imam, mengabaikan makna Kholifah, mengabaikan bahwa semua Kholifah, Sulthon, dan penguasa-penguasa Islam sepanjang sejarah adalah penguasa. Yang dapat mengatur kaum muslimin, mencegah kaum muslimin dari tindakan mendholimi muslimin lain, menghalau orang kafir yang memusuhi, mencegah kejahatan, mengatur kehidupan bermasyarakat agar peribadatan kepada Al Kholiq terwujud seperti sholat jama’ah, puasa, haji, idul fitri, jihad dll.
Kemana akal sehat Abu Azi, racun apa yang menyumbat pemikirannya. Sungguh sulit di ucapkan dengan kata-kata yang tepat untuk menyebut kejumudan mereka.
Untuk pertolongan awal padanya sekali lagi saya ajak kepadanya untuk meyakini tehadap kebenaran Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, membacanya berulang-ulang tanpa perasaan enggan sedikitpun. Saya berharap masih ada sedikit keimanan padanya terhadap Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam perkara ini.
Masih ada keberanian padanya keluar berbeda dari Amir-amirnya untuk komitmen pada hadit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Saya mengajak kepadanya dengan setulus-tulusnya kembali kepada Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagaimana banyak ucapannya dalam komentar-komentarnya..
Perhatikanlah Saudaraku, sungguh saya iba kalian….!
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
Bahwasannya Imam adalah junnah (perisai / tameng) yang dilancarkan perang dari belakangnya terhadap musuh dan ditakuti, jika dia memerintah bertakwa kepada Allah dan berlaku adil ia mendapat pahala dengan sebab hal itu, dan jika dia memerintahkan dengan yang selainnya, dia mendapatkan dosa karena hal itu (HR. Muslim)
Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim jus 12 hal 352, menjelaskan sebagai berikut :
”Yang dimaksud imam itu perisai ialah sebagai fungsi tabir. Karena imam dapat mencegah musuh agar jangan mengganggu kaum muslimin dan dapat mencegah rakyatnya untuk jangan saling mengganggu satu dengan yang lainnya. Imam itu juga dapat melindungi kelangsungan masyarakat islam, serta ditakuti oleh rakyatnya (yakni memiliki kewibawaan) dan rakyat dalam keadaan takut dari hukumannya”.
Dengan definisi dan keterangan tersebut di atas, kita yakin bahwa tidak semua orang yang dibai’at sebagai imam, berarti dia harus ditaati dan disikapi sebagai imam. Karena yang ditaati dan disikapi sebagai imam hanyalah yang memiliki kekuasaan dan kekuatan terhadap rakyatnya serta mampu dengan kekuatannya mencegah segala gangguan terhadap rakyatnya. 2
Kita tanya Abu Azi, yakinkah antum pada hadits di atas ?
Berfikirlah saudaraku ! Tinggalkan sebentar doktrin Wali Al Fatah, yang mengatakan Islam Non Politik dan tidak harus berkuasa ! Tinggalkan anggapan apabila mengatakan / berfikir Imam penguasa itu adalah politik / hawa Nafsu.
Justru yang Imam bukan penguasa itu adalah kata-kata politik, kata-kata yang tidak berdasar dari Al-Qur’an dan Sunnah yang berarti itu adalah politik. Karena tidaklah yang keluar dari Lisan Rasulullah kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Mari kita tinggalkan Wali Al Fatah, saya yakin beliau tidak pernah baca hadits ini, apalagi syarahnya Imam Nawawi (‘affan ! karena Beliau Wali Al Fatah tidak dapat baca tulis Bahasa Arab). Saya husnudhon jika beliau melihat / mendengar hadits ini tidak berdakwah seperti itu. Semoga Allah mengampuninya.
Sekali lagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Bahwasannya Imam adalah junnah (perisai / tameng) yang dilancarkan perang dari belakangnya terhadap musuh dan ditakuti,…..
Kalau memang antum jujur dalam beragama, tidak taklid, tidak taashub. Sungguh-sungguh komitmen dengan Syahadatain bantahlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tersebut dengan Sabda beliau pula !
Janganlah Antum mengatakan ….tapi….tapi….tapi yang keluar dari lisan antum tanpa sedikitpun di dasari oleh ucapan ‘‘ulama apalagi hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Ana melihat antum tidak mau kepada apa yang ana bahas, selalu meloncat-loncat pada persoalan-persoalan yang lain. Andai antum jujur membaca dengan teliti, dan bersungguh-sungguh mencari kebenaran saya yakin antum akan faham.
Hilangkan nafsumu, tinggalkan sebentar fahammu yang lalu. Sekarang belajar, belajar ilmu baru, setelah itu.. bandingkan dengan teliti, ditimbang dengan akal sehat, berdoa, minta petunjuk pada Allah Azza Wa Jalla yang padanya semestinya kita minta segala sesuatu.
Sungguh tidak bakal antum mampu membantah ana (biidznillah), semua yang ada pada pikiran antum sudah masuk semua di pikiran ana pula. Insya Allah, karena sayapun dulu seperti antum.
Sekarang kita masuk pokok persoalan, yaitu permasalahan ditundanya pemakaman jasad Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Sebelum membahasnya perlu di ingat bersama bahwa kehidupan pra Islam di jazirah Arab adalah tidak punya penguasa yang dapat menyatukan kabilah-kabilah, setiap kabilah memiliki pemimpin sendiri, sehingga rentan perang, rentan pertumpahan darah yang semua itu menjadi haram (terlarang) setelah datangnnya Islam. Islam datang menjaga darah, harta, kehoramatan dan persaudaraan.
Dari alinia di atas, kita sepakat bahwasannya keberadaan Imam yang dapat menyatukan kabilah-kabilah, yang dapat menyatukan pemimpin-pemimpin kelompok kecil adalah suatu kewajiban baik ditinjau dari segi syareat maupun dari segi akal.
Adanya Imam yang menyatukan seluruh kaum muslimin adalah keutamaan dan harus diupayakan oleh seluruh kaum muslimin sebagai manifestasi terhadap firman Allah Azza Wa Jalla dalam surat ali Imron 103 yang artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Semua Ahli tafsir menjelaskan maksud ayat ini bahwa Wajibnya kaum muslimin untuk berjama’ah. Ini sudah ma’ruf . Semua kaum mulimin sepakat, sebagaimana Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga kitab-kitab tafsir yang lain.
Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal, wajib secepatnya harus ada Kholifah (Penguasa) yang dapat menyatukan seluruh kaum muslimin yang ada, haram kaum muslimin kembali kepada masa jahiliyyah. Kaum muslimin harus punya Imam dan atas takdir Allah Azza Wa Jalla Abu Bakar Ash Shidiq di bai’at sebagai Kholifah.
Maka diantara fungsi Imam ini adalah menyatukan kaum muslimin, ditaati oleh seluruh kaum mulimin, ditakuti oleh kaum muslimin sebagaimana hadits di atas : sehigga salah satu tujuan syareat yaitu menjaga darah, harta dan kehormatan kaum muslimin dapat terwujud. Dan beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dapat tertunaikan secara sempurna.
Dari uraian tersebut di atas, dapat diambil faedah ;
  1. Pengangkatan Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu bertepatan pada saat kaum muslimin tidak memiliki pemimpin (penguasa) karena ditinggal oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ini bukan berarti kaum muslimin tidak memiliki jama’ah, Jama’ah sudah ada akan tetapi belum punya pemimpin.
    Ini hal penting yang harus disadari oleh seluruh pemuja khilafah. Agar tidak terjebak faham khowarij yang mengkafirkafirkan penguasa dan senantiasa memecah persartuan kaum muslimin. Ingat bahwa dibae’atnya Abu Bakar bertepatan ketika Jamaa’ah Kaum Muslimin tidak punya pemimpin yang ditaati oleh kaum muslimin yang dapt menyatukan mereka.

  1. Wajibnya atas kaum muslimin mengangkat Imam, yang ditaati, ditakuti, dapat memaksa kaum muslimin, dapat mencegah kaum muslimin dari perbuatan mendholimi saudaranya sesama muslim baik dhohir maupun batin. Dapat mengatur kehidupan kaum muslimin secara tertib sehigga peribadatan kepada Allah Azza Wa Jalla dapat tercapai. Dapat memimpin kaum muslimin berperang melawan musuh-musuhnya. Simpulan ini mencocoki ucapan Syaikh Muhammad bin Ramzan Al Hajry Hafidzhullah : ….Daulah itu sebagai wasilah untuk tegaknya tauhidullah.

Di tempat lain Syaikh menukil perkataan Syaikh Fauzan berikut :
Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzhahullahu ditanya : Apakah bai’at itu wajib, atau sunnah, atau mubbah ? Dan apa kedudukan bai’at dari jama’ah, mendengar dan taat ?

Maka beliau menajwab : “Wajib bai’at pada Waliyul Amri untuk mendengar dan taat ketika ia dijadikan imam bagi muslimin dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Dan yang membai’atnya adalah ahli wal ‘aqdi serta para tokoh, dan selain mereka dari rakyat maka mengikutinya. Yang wajib bagi mereka adalah taat dengan bai’at ini tidak dituntut dari setiap individu rakyat dari kaum muslimin karena umat Islam adalah satu jama’ah, yang tokoh serta ‘ulama mereka telah mewakilinya.
Ini yang pernah ada di kalangan salafus sholih dari umat ini, sebagaiman bai’atnya kepada Abu Bakar dan yang lainnya dari penguasa kaum muslimin”. (Majalah An NasihahVolume 11 Th. 1/1427H./2006 M, hal 28-29)

Saya katakan : sehingga Imam yang dijadikan sebagai pemimpin kaum muslimin adalah Imam yang didukung oleh kaum muslimin (moril / materiil) dan karena dukungannya tersebut Imam memiliki kekuatan hingga dapat mengatur, memaksa dan menghukum siapa saja yang berani keluar (Khuruj / Memberontak) kepada keberadaannya Imam, serta mampu melindungi kaum muslimin dari musuh-musuhnya.

Sehingga dari dua faedah di atas dapat digunakan menjawab syubhat pernyataan Abu Azi, yang mereka mewajibkan mengangkat seorang Imam walaupun sudah ada penguasa muslim yang disepakati oleh kaum muslimin, dan nyata mengatur urusan mereka baik dunianya maupun agamnya.

Pertanyaannya :
  1. Apakah Ketika Wali Al Fatah berjuang menyatukan kaum muslimin, sudah ada jama’ah kaum muslimin dan penguasanya yang diataati, ditakuti, mengatur kepentingan-kepentingan dunia maupun agama jama’ah muslimin ?

Jawabnya pasti sudah, walaupun dalam beberapa segi tidak sempurna seperti : tidak berhukum dengan hukum Allah Azza Wa Jalla dalam segelala perkara, tidak bersatu dengan penguasa-penguasa di negeri lain dan sebagainya.
Maka dalam keadaan seperti ini jalan yang rasul perintahkan adalah Talzamu Jama’atal Muslimin Wa Imamahum = tetaplah engkau berpegang teguh dengan jama’ah muslimin dan penguasanya / pengaturnya. Asal mereka masih sholat dan belum kafir. Sebagaimana hadits-hadits yang sudah banyak di blog ini.
Dari Ummu Salamah berkata, Rasulallah bersabda: Nanti akan muncul sepeninggalku para penguasa, kalian mengetahuinya lalu kalian mengingkarinya. Barangsiapa mengingkarinya maka dia telah berlepas diri dan barang siapa yang membencinya, maka sungguh ia telah selamat, kecuali orang yang rela dan mau mengikutinya. Mereka bertanya: Apakah kita akan melawannya dengan pedang? Beliau bersabda: ]angan, selama mereka masih mendirikan shalat.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)
Rasulullah membai’at para sahabat untuk : mendengar dan taat pada penguasa dalam keadaan senang maupun benci kepadanya dan dalam keadaan kesulitan maupun dalam keadaan aman. Bahkan dalam keadaan dirugikan oleh penguasa muslim. Juga beliau mengambil bai’at para sahabatnya agar jangan memberontak penguasanya, kemudian beliau mengatakan: “Kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian punya hujjah dari Allah pada perkara itu (HR. Muslim)
Jelaslah dari kedua hadits tersebut batas seorang dapat dianggap penguasa / ulil amri yang wajib ditaati adalah seorang yang beriman / Muslim dan masih melaksanakan Sholat. Ini batasannya dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Jangan sekali-kali mengarang sendiri.
Sehingga walaupun Wali Al Fatah berkeliling dunia untuk mengajak kaum muslimin (baca rakyatnya) bersatu berbai’at kepadanya tidak akan disambut oleh kaum muslimin. Mengapa ? Karena semua kaum mulimin sudah terikat oleh ketaatan kepada masing-masing penguasa yang menyatukan mereka di negeri masing-masing.
Sehingga apabila Wali Al Fatah / atau kita semua menghendaki terjadinya persatuan kaum mulimin tidak lain jalan yang harus ditempuh adalah menasehati para penguasa kaum muslimin yang ada di seluruh dunia Islam untuk bersatu mengangkat satu pemimpin yang dapat ditaati oleh para penguasa negeri-negeri muslim lainnya.
Ini adalah amalan yang mulia. Namun kalau memang Allah Azza Wa Jalla belum takdirkan bersatunya seluruh penguasa kaum muslimin dengan nasehat tersebut kewajiban kita telah terlaksana adapun dosanya ada pada penguasa-penguasa tersebut.
Sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada sabdanya berikut ini:
“Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan-pen), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Riwayat Ahmad, At-Thobrooni, dan Ibnu Abi ‘Ashim, dan Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Sesungguhnya Allah meridhoi bagi kalian tiga perkara dan memurkai atas kalian tiga perkara, Dia meridhoi bagi kalian agar menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, berpegang teguh dengan tali Allah (syariat Allah), dan jangan berpecah belah dan menasehati orang yang Allah jadikan sebagai pemimpin kalian.” (Riwayat Malik dan Ahmad)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Agama adalah nasehat, agama adalah nasehat, agama adalah nasehat”. Mereka berkata:” Wahai Rasulullah bagi siapa?” Rasulullah menjawab: ”Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemerintah kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin secara umum.” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy & An Nasa’i)
Demikian syareat menunjukkan disaat penguasa tidak dalam koridor kebenaran, seperti tidak berhukum dengan hukum Allah Azza Wa Jalla, tidak mau bersatu dengan penguasa yang lain dan juga kemaksiatan-kemaksiatan selainnya kita semua dianjurkan untuk menasehatinya.
Itulah hakikat syareat, akan dapat difahami Insya Allah oleh orang yang memang beragamanya berittiba’ pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bukan pada amir jaama’ahnya, bukan pada kiyainya, pada ustadznya dan semisalnya.
Bukan sebagaimana yang dilakukan oleh Wali Al Fatah (semoga Allah mengampuninya) membuat kelompok baru, memisahkan diri dari jama’ah muslimin memecah persatuan kaum mulimin menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil semisal Jama’ah Muslimin (Hizbullah), LDII, NI dan semisalnya.
Ketahuilah sekarang ini kaum mulimin sudah terpecah oleh negara-negara, ketika sikap anda semua pemuja khilafah keluar dari pemerintah, menjauhi mereka dalam arti memberontak, mengangkat amir di bawah tanah, mengkafir-kafirkan mereka (penguasa) kaum muslimin ini semakin lemah, semakin terpecah menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil.
Ini berarti secara hakikat antum sedang memecah belah barisan kaum mulimin, kalian sedang kembali kepada masa jahiliyah tidak mau diatur oleh penguasa yang dapat menyatukan kalian. Ini adalah warisan khowarij, yang mana mereka selalu tidak mengakui penguasanya dengan alasan tidak berhukum dengan hukum Allah Azza Wa Jalla. Semoga Allah Azza Wa Jalla selamatkan seluruh kaum mulimin dari fitnah keji khowarij ini.
  1. Apakah Khilafah Wali Al Fatah berfungsi menyatukan kaum muslimin, baik dengan terpaksa atau sukarela ?
Apakah Khilafah Wali Al Fatah mendapat dukungan (moril / materiil) dari kaum mulimin sehingga punya kekuatan, ditakuti, melindungi dari musuh kaum mulimin ?
Kalu semua itu tidak ada padanya, maka sedikitpun mereka bukan imam, bukan ulil amri bukan pula kholifah. Bahkan merekalah yang secara hakiki menyempal dari jama’ah muslimin yang sebenarnya.
Ingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, Bahwasannya Imam adalah junnah (perisai / tameng) yang dilancarkan perang dari belakangnya terhadap musuh dan ditakuti, jika dia memerintah bertakwa kepada Allah dan berlaku adil ia mendapat pahala dengan sebab hal itu, dan jika dia memerintahkan dengan yang selainnya, dia mendapatkan dosa karena hal itu (HR. Muslim)

Maka sia-sia amalan Wali Al Fatah dalam perkara ini karena jauhnya beliau dari tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, semoga Allah Azza Wa Jalla ampuni dan merahmatinya.
Itulah akhir ucapan saya, semoga semuanya pemuja khilafah dapat memahaminya. Tentu saja ucapan saya jauh dari perkataan ‘ulama. Namun Insya Allah semua itu faham “semua ‘ulama-‘ulama ahlussunnah” yang atas kehendak Allah semata saya dapat meneguk manisnya ilmu ini melalui murid-murid mereka, yang sebelumnya saya terbelenggu faham hizbiyyah, khowarij dan takfiri.

Saya berdoa Allah Azza Wa Jalla memberi pahala yang besar kepada mereka semua. Sungguh atas upaya mereka ‘ulama-’ulama ahlussunnah perkara ini dapat dipahami oleh kaum mulimin.

Faham mereka satu semenjak dahulu, sampai sekarang tidak ada perbedaan dalam perkara ini. Suara mereka satu : Menyeru kaum muslimin untuk bersatu, mendengar dan taat pada penguasanya, menasehati jika penguasanya salah, mendoakan dan membantu dalan perkara ketoatan kepada Allah Azza Wa Jalla.
Saya berharap dengan jerih payah saya menekankan jari jemari yang lemah ini, dengan kebodohan ini, dengan semangat cinta atas sunnah, cinta kasih kepada sesama kaum muslimin, ilmu yang sedikit ini saya jariyahkan di jalannMu, saya shodaqohkan bagi seluruh kaum muslimin yang terbelenggu faham sesat menyesatkan.
Ya Allah yang maha Pengasih, kasihanilah kami, berilah pahal kepada kami atas jerih payah ini.
Ya Allah yang maha memberi hidayah, melalui tulisan ini berilah hidayah kepada saudara-saudara kami, kaum muslimin, terkhusus mereka pejuang khilafah yang sangat mudah mengkafir-kafirkan kaum muslimin,. Hingga Engkau catat tulisan ini sebagai suatu kebaikan bagi hambamu ini.
Ya Allah sumber keselamatan selamatkanlah saudara-saudara kami di Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dari faham sesat Wali Al Fatah, beri petunjuk pada mereka dan ampunilah Wali Al Fatah atas kebodohannya, sesungguhnya engkau maha pengampun lagi maha penyayang. Amin…Amin…Amin.
Kesalahan dari hamba dan kebenaran dari-Nya.
Wallahu ta’ala A’lam
Bersambung (Insya Allah Azza Wa Jalla) padaartikel berikutnya : benarkah jama’ah Muslimin (Hizbullah) Khilafah ‘ala minhajin Nubuwah ?
1 Bukan maksud saya untuk merendahkan Wali Al Fatah, saya sangat menghargai perjuangan beliau dalam berdakwah kepada Islam serta perjuangannya pada pra kemerdekaan. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberi pahala yang setimpal padanya dan mengampuni atas salah dan kekurangannya. Namun saya lebih mencintai kebenaran, oleh karena itulah saya uraikan kesalahan-kesalahan Wali al Fatah agar kaum muslimin terbebas, minimalnya menyadari bahwa Wali Al Fatah adalah salah.
2 Majalah Salafy edisi 33 / 1420 H/ 1999 M


Mudah-mudahan tulisan ana ini bermanfaat buat ikhwan-ikhwn ana yang masih menyakini wajibnya berbaiat kepada imam Jamaah Muslimin (Hizbullah).
Afwan karena kesalahan teknis, artikelnya tidak dapat dibuka lengkap. Dulu waktu nulis dan posting ana lagi belajar WP, ternyata sekarang tidak dapat di akses dan arsip di flashdisk ana tiak dapat ditemukan. Jadi untuk bantahan buat abu azi (1) tidak dapak dapat dibaca.

Tapi akhwan JMH bisa langsung baca Bantahan buat Abu Azi (dua).
Alhamdulillah sepertinya Akhina Abu Azi sudah menyadari kesalahanya.
Namun memang untuk dapat keluar dari jamaah HIzbiyah seperti itu sangat sulit. Membutuhkan tekat yang kuat mengharap wajah Allah semata. Kenapa karena ikatan hizbiyyah itu sangat kuat, persaudaraannya luar biasa. Namun di samping itu yang mengherannkan, karena namanya juga bid’ah ketika orang keluar dari jamaahnya langsung terputus hubungan bahkan cenderung dibenci dan di jauhi. Inilah persaudaraan di atas bid’ah.
Afwan kok jadi ngajari Abu Luqman.

Oh..ya akhi …ana minta bantuan kepada antum semua untuk dapat membuat tulisan atau apalah
untuk menyelamatkan ikhwan-ikhwan ana yang masih di JMH, mungkin tulisan ana yang bodoh kurang dapat membantu mereka. Ketahuilah akhi….ana melihat banyak ikhwan di JMH yang bersemangat kepada kebenaran namun, rintangan dari pimpinan-pimpinan mereka sangat kuat juga ancaman, atau resiko putrus hubungan. Itu yang membuat orang-orang yang kurang ilmu merasa takut untuk keluar. Ana sangat iba melihat mereka.
Doakan saja ikhwan-ikhwan di JMH agar dapat menyadari kekeliruannya dan semoga Allah memberi barokah dakwah salafyah di bumi Ini.

Afwan, Ana tidak tahu bahkan setahu ana tidak ada. sebab nama jamaah muslimin itu pertama kali dipakai oleh wali alfatah ketika dia menemukan hadits hudzaifah tersebut. yaitu talzamu jamaah muslimin wa imamahum.
Haditsnya betul akan tetapi pengamalannya yang salah karena jamaah muslimin bukan nama. buktinya tidak ada satupun kholifah rosyidah atau para ulama menggunakan nama jamaah muslimin dalam kelompoknya tau kepemimpinannya.
Dapat terjadi demikian karena wali alfatah (imam jmh yang pertama) tidak belajar terlebih dulu untuk mengamalkan hadits, wali alfatah tidak faham maksud dari beriltizam dengan jamaah muslimin.
Karena perintahnya adalah beriltizam dengan jamaah muslimin maka nama jamaahnya diganti menjadi jamaah muslimin (hizbullah), jelas ini adalah kebodohan

itik penting kekeliruan mereka adalah : Mereka tidak mau memahami alqur’an an sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh para ulama-ulama ahlussunnah yang kaum muslimin telah menerima mereka semua sebagai ulama.
Semua kelompok ya mengatkan bahwa berpedoman dengan alqur’an dan sunnah akan tetapi pertanyaannya siapa yang memahami alqur’an dan sunnah tersebut ? Apakah semua orang boleh semaunya sendiri memahami alqur’an dan assunnah ? Tentu tidak, pemahaman tersebut haruslah merujuk kepada apa yang telah dipahami oleh generasi pertama ummat ini dari kalangan sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan para ulama yang komitmen dengan islam ini.
Dan semua para ulama islam tidak mengamalkan hadits talzamu jamaah muslimin seperti wali alfatah, sebab itulah nama jamaah muslimin sebagai kelompok baru muncul sejak munculnya wali alfatah. ini membuktikan bahwa amalan ini muhdats (hal baru) dengan demikian ini adalah amalan bid’ah yang kaum muslimin semuanya harus meninggalkannya.

Mereka sangat lucu mau mengambil hadits dari ahli hadits akan tetapi mereka tidak mau mengambil faham ahli hadits tersebut.
Tanyakan kepada mereka apakah Imam Bukhori dan Muslim yang haditsnya mereka jadikan pedoman membuat jamaah muslimin seperti mereka ?

nsya Allah….., namun sebenarnya tulisan-tulisan yang ada di blog ana ini sudah sangat cukup untuk membantah mereka.
Saran ana, karena syubhat mereka sangat banyak ajaklah sahabat antum ketemu dengan ustadz-ustadz ahlussunnah yang ada di daerah antum dan ini harus dilakukan berkali-kali. Jika memang dia masih ada nilai-nilai positifnya yaitu mengamalkan islam dengan sungguh-sungguh dan masih mencari kebenaran insya Allah diberi hidayah oleh Allah ta’ala.
Namun setahu ana kebanyakan mereka adalah orang-orang taklid yang takut keluar dari jamaahnya. Mungkin disebabkan keluarganya, tetangganya, saudaranya dll karena ikatan mereka sangat kuat sehingga tanpa keinginan yang kuat dan akidah yang kuat rasanya tidak mungkin mampu keluar dari jamaahnya.
Ass.Wr.Wb.
Saya katakan sekali lagi, saya ini “buta huruf” dalam hal Islam, tetapi Insya Allah saya yakini dan sedikit-sedikit menjalankan ajarannya, walaupun mungkin masih salah-salah.
Bukannya saya pendukung Mas Abu Salam, tetapi saya rasa penjelasannya masuk di akal, tidak terlalu emosional. Ketika saya kirim kiriman email dulu (mungkin dengan Mas Abuazi yang ini?) tentang Jama’ah Muslimin, … eh balasannya cukup emosional (ma’af kalau Mas Abuazi bukan yang dimaksud di sini lho).
Kepada Mas-mas “DUO ABU” mohonlah kami yang awam ini jangan dibuat bingung. Kita sepakat tentang Khilafah, tetapi kalau Wali Al Fatah atau Muhyidin Hamidy apa iya? Diuji pakai logika elementer saja kok gak nyambung. Apalagi pakai logika keislaman yang dalam (saya pasti gak tahu).
Mas-mas “DUO ABU” kalau berkenan kita email-emailan ya. Email itu akan saya cetak dan kirimkan ke kakak-kakak saya, yang selain computer illiterate juga sudah pensiun sehingga terlalu berat kalau harus main internet.
Ma’af nimbrungnya saya di blog ini karena


Assalamu’alaykum..
Saya cm mau bertanya..
Dimanakah Jama’atul Muslimin ketika kaum muslimin di Afghanistan di serbu oleh orang2 Komunis Rusia?Amerika dan negeri2 Kafir lain?
Dimanakah Jama’atul Muslimin ketika kaum muslimin di Palestina di porak-porandakan oleh Negeri Yahudi?
Di manakah Jama’atul Muslimin ketika beribu-ribu Kaum Muslim di Bosnia di bantai oleh orang2 Kafir Nashrani Serbia?
Di manakah Jama’atul Muslimin ketika Kaum Muslim Chechya bi serbu oleh orang2 Kafir Komunis Rusia?
Dimanakah Jama’atul Muslimin ketika kaum muslimin Thailand di tindas oleh pemerintahnya?
Dan juga, dimanakah jama’atul muslimin ketika kaum muslim di negeri ini -di Ambon, Poso, Sampit- diserang oleh orang2 kafir..
Adakah perlindungan dan pembelaan dari Jama’atul Muslimin terhadap saudara2nya sesama kaum muslimin dari serangan dan gangguan dari orang2/negeri2 kafir?
Bukankah Jama’atul Muslimin itu lambang persatuan dan kejayaan Islam yang menaungi dan melindungi seluruh kaum muslimin di seluruh pelosok dunia??
Adakah kemampuan dari Jama’atul Muslimin menaungi dan melindungi seluruh kaum muslimin?
“Bahwasannya Imam adalah junnah (perisai / tameng) yang dilancarkan perang dari belakangnya terhadap musuh dan ditakuti, jika dia memerintah bertakwa kepada Allah dan berlaku adil ia mendapat pahala dengan sebab hal itu, dan jika dia memerintahkan dengan yang selainnya, dia mendapatkan dosa karena hal itu” (HR. Muslim)
Dan ada sesuatu yang aneh yang pernah saya dapati dari Jama’atul Muslimin, karena mereka berdakwah dengan memakai kitab2 terjemahan dan bukan memakai kitab asli..
Balas


Ass.Wr.Wb.
Wah, saya jadi bingung ketika baca bantah-bantahan di media ini. Kita semua Muslim kan? Kok bantah-bantahannya masih ada nuansa membela kelompok (walaupun sesama muslim)?
Saya baru telp kakak saya: saya ceritera tentang Mas Abu Salma MF dan Mas Agus Rizky (yang punya Indo Rizky di Purbalingga?). Maklum, mereka (kakak saya) internet illiterate.
Pada-pada wong dhewek ternyata.
Bantulah saudara-saudara sesama muslim, bukan saja sesama kelompok.
Mohon ma’af saya tidak bisa berargumen seperti yang tertulis di media ini, terlalu canggih (pengetahuan saya gak sampai). Tetapi yang terang, kita semua juga dianugerahi logika (walaupun sebatas logika manusia). Kalau orang Islam harus membai’at Hamidi, memangnya Hamidi itu siapa? SEKALI LAGI KEPADA YANG MERASA TAHU TENTANG ISLAM BANTULAH SAYA DAN SAUDARA-SAUDARA SAYA (termasuk di luar kakak saya).
Satu yang jelas, dua kakak saya masuk kelompok Jama’ah Muslimin, mereka telah membai’at Hamidi? (tolong kalau adalah salah-salahnya, luruskan). Diajak atau tidak, mereka sepertinya selalu “berdakwah” kepada saya tentang KHILAFAH. Pokoknya mereka tidak mau denger kata-kata orang lain. Padahal saya dan mereka juga sama-sama tahu kadar pengetahuan agamanya (terlalu cethek).
Insya Allah saya sudah mulai dan akan saya teruskan untuk meyakinkan dua kakak saya. Tentu saja nimbrungnya saya di media ini juga salah satu upayanya, selain tanya sana sini kepada yang ngerti.
Pernah saya akan mengajak seorang uztad yang bernama Pak Mukhsinin, beliau ahli Hadist lulusan Arab Saudi (S1) dan biasa ceramah di kantor saya. Eh, ketika kakak saya kasih tahu saya akan undang orang yang ahli, langsung minta pulang dengan berbagai alasan. Weleh weleh weleh.

I’ll keep in touch, wassalam,
Bambang
Balas
Yth Mas Abuazi dan Mas Abu Salma (sebutan Mas untuk menghargai Anda berdua, tanpa niat lain).
Assalammualaikum Wr.Wb.
Saya bukan dari kelompok Jama’ah Muslimin atau Salafy (mohon koreksi kalau salah spelling), tapi yang jelas saya saudara Anda berdua, sesama Muslim.
Rasanya diskusi Anda berdua “cukup panas” dan mudah diterka bukan untuk mencari keberan, tetapi lebih bernuansa membela kelompok. Topik diskusi tidak jelas, karena latar belakang tersebut. Walaupun tujuannya tetap baik, minimal untuk kelompoknya, kurang bermanfaat bagi muslim secara umum.
Sekali lagi pengetahuan keislaman saya (sudah saya deklarasikan berkali-kali) sangat cethek. Tetapi, saya rasanya pernah ikut diskusi ilmiah di dalam maupun di luar negeri (yang penduduknya non-muslim). Suasana diskusi yang pernah saya ikuti kok hangat ya, tetapi tidak panas. Kuncinya ada topik diskusi yang tidak terlalu lebar.
Untuk Anda berdua – saya yang telah dengan senang hati mengunjungi blog ini – mohon diskusilah seperti dua orang saudara yang memberi saya segelas air minum saat saya kehausan.
Topik diskusi yang saya usulkan (sesuai kebutuhan saya dan orang-orang semacam saya) adalah HUBUNGAN WALI AL FATAH DAN KHILAFAH DALAM KONTEKS ISLAM.
Saran: diskusi bertujuan mencari kebenaran yang dipersembahkan untuk orang lain (sesama Muslim). Dilakukan secara cool man.
Yang telah Anda berdua “pertontonkan” kurang ringkas, terlalu ngombro-ombro dan tanpa semangat menjawab topik, karena memang bukan itu tujuannya?
Hendaknya bahasa diskusi jangan tinggi-tinggi dong kan nanti saya mati lampu. Ora ngerti pok buntunge. Rasanya saya menyebut “saya” “Anda” nggak dosa kan walau nggak pakai “ana” “antum” dan semacamnya? Nah itu, yang saya maksud “bahasa tinggi”. Kan Islam untuk semua (Islam for All).
Mudah-mudahan Anda berdua memenuhi kebutuhan saya (dan saudara-saudara lain).

Wassalammualaikum Wr. Wb.
Bambang

Abu Salma Mohamad Fachrurozi, on November 5, 2007 at 2:17 am said:

Assalamu ‘alaikum.
Buat MAs Bambang saya ucapakan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas apresiasi yang diberikan kepada tulisan-ulisan saya. Jazzkumullahi khoiton kasiro.
Namun adas hal yang harus saya luruskan mengenai komen yang anda masukkan ke blog saya, yaitu mengenai anggapan anda bahwa salafy adalah kelompok.
Saudaraku semoga Allah menambahi ilu kepada kita semua. Perlu diketahui bahwa salafy itu bukan kelompok.
Salafyah adalah metodologi memahami islam maksudnya adalah siapa saja yang berisslam dengan berdasarka al-qur’an dan sunnah rasulullah dengan faham yang telah difahami oleh para sahabat rasulullah shallallahu ‘alaii wasallam.
Sehingga siapa saja dapat menjadi salafy tanpa masuk kepada kelompok a atau kelpok b. Asalkan beraama islam dengan kaidah di atas dengan jujur terbukti dengan amalan dialah salafy.
Jadi salafy itu bukan saya, bahkan ketika saya mengatakan saya adalah seorang salafy maknanya adalah saya sedang berupaya menjadi orang islam yang berfaham salafyah. Adapun secara hakikat Wallahu ta’ala a’lam. Semoga Allah menggolongkan saya termasuk di dalamnya. (semoga tidak salah memahami)
Adapun apabila anda meliat tulisan / kalimat saya cenderung kasar, itu keterbatasan yang ada pada saya, maka sudah semestinya manusia itu menilai seseorang secara komprehansif. Maksud saya mungkin anda menilai saya kasar dari segi ucapan maupun tulisan, di sisi lain jika anda bergaul dengan saya mungkin akan menemukan kelembutan yang ada pada diri saya. (nsya Allah)
Yang jelas kasar atau mungkin bernada panas yang keluar dari mulut saya adalah bentuk cinta kasih saya kepada mereka yang terbelenggu dengan faham bodoh Wali Alfatah (Semoga Allah merehmati dan mengampuninya).
Demikian yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuhu.
Balas

alhamdulillah, bagi ana semuanya telah jelas bahwasanya, Al haq mir rabbika falaa takuunanna minal mumtarin. perilaku yang antum berdua (abu salma dan saudaranya agus rizky) perlihatkan semakin menambah keyakinan kpd ana bahwasanya siapa yang taqlid teriak taqlid ?, siapa yang ta’ashub teriak ta’ashub, siapa yang manqul teriak manqul ? antum berdua telah teruji akan hal ‘ilmu yang serba wah dari karya ilmiyah para ahli ‘ilmi zaman sekarang yang berada dibalik antum saat ini. insya Allah mereka (ahli ‘ilmi, ahli hadits, ahlidz dzikr masa lalu/salafush shalih) yang ana ittiba’ kepada mereka dan juga para ahli hadits mutaakhirin rahimahullah ‘alaihim ana sepakat namun ittiba’ hanya pada yang sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya, ana berserah diri dan berlepas diri dari apa2 yang menimbulkan fitnah keji terhadap ad dien. Yang antum berdua lakukan adalah merupakan fitnah terbesar, dengan merasa benar telah kharaj dari Al Jama’ah ai Jama’ah Muslimin wa imaamahum ai thaifah manshuroh, ai firqotun najiyah ai al khilafah ai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah ai hizbullah, nama wadah dan sistem berikut sifatnya walau terdapat banyak kekurangan karena telah lama ditinggalkan oleh muslimin semenjak runtuhnya khilafah islamiyyah Turki Utsmani (diangkatnya mulkan jabariyyah atas kehendak Allah-red) yang sebelumnya telah tebal dakhan adh dhan dan jabariyyahnya hingga muslimin tiada mengenali sepenuhnya wadah, bangunan dan sistem yang telah Allah sediakan bukan didirikan atau dideklarasikan sebagaimana tuduhan antum berdua karena adanya bantuan fitnah keji orang2 yang tiada bertabayun selevel Hartono Ahmad Jaiz, dan kurang nyambungnya antum berdua manakala berada dalam Jama’ah Muslimin ai hizbullah karena kesibukan dunia (terlihat dari kesimpulan2 keliru dan analisis urakan dan juga sikap bathil taqlid berselimut fas’alu ahladz dzikri in kuntum laata’lamun dan mengartikan ketha’atan muthlaq kepada Allah yang memerintahkan untuk tha’at kepada makhluq dalam hal ma’ruf laa tha’ata fii ma’shiyatil khaliq sebagai taqlid, yang sam’i dituduh jarang ta’lim mengkaji ‘ilmu para ‘alim ‘ulama masa khair (keemasan islam) yang pertama=nubuwwah n khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), ta’rif dan tun kir akan shifat syar perpecahannya/adanya dua khalifah dalam satu masa antara dua shahabat mulia Ali dan Muawiyah radhiallahu anhuma) bukan pada orang nya. dilanjut setelah syahidnya Imaam Ali radhiallahu ‘anhu maka muslimin kembali kepada masa khair namun ada dakhon yangmana mereka menggunakan yahduuna bighairi hadyi au yasnuuna bighairi sunnatii(adh dhan dan jabariyahnya dari para imaam/sulthan yang fajirnya, dan para muwahidun shahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, ahli ‘ilmi, ahli dzikr, ahli hadits masa salaful ummah=khair wa ba’dahu waba’dahu) mereka semua ta’rif wa tunkiru akan dakhonnya namun tetap sam’i wa tha’at thdp yg ma’ruf dalam kepemimpinan sentral sang khalifah/imaam sebutan, padahal mereka yang sebenarnya adalah mulkan/sulthan berdasarkan hadits Rasulullah. Maka setelah diplokamirkannya keruntuhan “khilafah islamiyyah” Turki Utsmany keseluruh seantero belahan dunia manapun maka masa mulkan Jabariyyah atas kehendak Allah untuk mengangkatnya bilamana Allah berkehendak mengangkatnya, muslimin sejak saat itu tiada lagi memeiliki kepemimpinan sentral, imaam/sulthan yang dibai’at untuk didengar dan ditha’ati secara ditakuti/junnah. yang ada muslimin terjebak dalam konspirasi global kaum kuffar yang walan tardho ankal yahudu walan nashoro… terpetak2 dalam faham ashobiyyah (nasionalisme,sekte2,ormas2,orpol,parpol dll sbgnya) yang antum berdua masih anggap sebagai tiran jabariyyahnya yang disadari atau tidak dgn mengakui hasil demokrasi yang antum berdua ingkari namun diterima hasilnya (talbiul haq bil bathil. Dusta atas nama ilmu. telah menyeret antum berdua berwala pada bush dan kongsi/sekutu Allah Yahudi Zionis Israelnya, kafir harb yang saat ini membuat terowongan dan berkehendak menghancurkan bekas kiblat kita muslimin.
bersambung insya Allah……

35 komentar:

Jamaah Muslimin Ibarat orang berjalan, mungkin sekarang belum apa-apa tetapi dengan izin Allah nanti akan besar .........Dan Kalau Masa depan nanti ketemu Jamaah Muslimin ya pasti itulah Jamaah Muslimin sebab tidak boleh ada Dua Jamaah / Dua Imam (perang jadinya) ......................Aplikasi Islam mudah Syahadah dulu baru yang lain ....baca hadist jibril . Kalau diluar itu saya ga tahu ....

 

Asswb.
Jamaah muslimin ibarat orang yang sedang berjalan, dibawah imaam muhhidin hamidy seperti berlari.
Jamaah ini memang belum apa apa tanpa pertolongan Allah tapi dengan pertolongan Allah juga jamaah ini sekarang sedang lepas landas.
Insyallah Al-Aqsho bisa diselamatkan oleh jamaah muslimin.

 

saat ini tahun 2012 dan jamaah muslimin hizbullah) ditunjuk menjadi amir pembebasan Al aqsa oleh Sjech Ali Abbasyii, dan beberapa tokoh ulama dari Gaza setelah konfrensi Al qud s di Bandung Juli kemarin, dengan pertimbangan inilah jamaah muslim yang real, bukan wacana seperti HTI, Salafi dll

 

gelar Sjech untuk wali al fatah diberikan oleh Amirul Salafy waktu itu King Faisal, dan sebagai makmum mustinya ikut amir, insya Allah dapat ganjaran baik dari Allah

 

astaghfirulloh,,, dengan banyak "dalil & dalih" congor-congor Salafy yang mengaku Ahlu Sunnah tapi menolak Khilafah ini mengagungkan Ulama2 yang menurutnya salaf dan murni, padahal memiliki loyalitas tinggi kepada ARAB SAUDI.

 

Ad Daulatul Islamiyah Melayu
Khilafah Islam Akhir Zaman

Kami mengundang Kaum Mukminin-Mukminat
Dari seluruh Dunia untuk bergabung bersama kami
Menjadi Tentara Islam The Man from The East of Imam Mahdi
as A New World Religion Bangsa Islam Akhir Zaman.

Kami mengundang Anda Menjadi Bagian Bangsa Islam berdasar Aqidah Islam
Bukan Menjadi bagian dari Bangsa-bangsa berdasarkan Daerah

Kunjungi Undangan kami Kehadiran anda kami tunggu di
di http://dimelayu.co.nu


 

Subhanalloh ,
Afwan sebelumnya , ada pertanya sedikit nih ?
apa perbedaan dan persamaan orang yang benar-benar percaya karena
1. sangat mengetahui dengan apa yang dipercayainya
2. sangat tidak mengetahui dengan apa yang dipercayainya.
Ana maklum atas antum semua, orang-orang pandai , ikhwan -ikhwan lulusan luar negeri dengan berbagai title , dana dakwah tidak terbatas , dan banyak lagi yang antum bisa.
Tapi kisah kasih yang antum ceritakaan di atas tidak sepenuhnya benar, karena kebenaran yang mutlak hanya milik Alloh.
Bisa saja yang kita sukai saat ini , kita sayangi saat ini , kita cintai dengan sepenuh hati saat ini , yang kita puji-puji keharuman aromanya adalah sesuatu yang membawa akibat buruk bagi kita dunia dan akhirat,
tapi bisa jadi yang kita benci dengan kebencian yang sedalam-dalamnya , yang kita enggan walau sekedar menatap barang sekejap, yang apabila kita menciumnya dari jarak yang sangat jauhpun terasa kita ingin muntah, itu adalah yang akan membawa kita pada kebaikkan dunia dan akhirat.

Berbeda dengan kami yang harus bergelut dengan kebodohan ilmiah , kedhoifan ma'isyah, tapi insya alloh kami masih meyakini bahwa
apabila kita diberikan oleh Alloh dengan kemuliaan, kelebihan harta dan nikmat nikmat lainnya maka tidaklah perlu kita terlalu yakin bahwa Alloh sedang memuliakan kita , dan sebaliknya apabila dicobakan kepada kami musibah dan terbatasnya rizqi maka tidaklah perlu kami mengatakan bahwa kami sedang dihinakan oleh Alloh.
Minta do'anya agar kami tidak termasuk penghianat Alloh, penghianat rasulullah dan penghianat kaum muslim semuanya dan tidak pula menjadi bagian dari kaum munafik.
Ingatkan kami bahwa tujuan alloh menciptakan kami adalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.
Jazakumulloh Khoiro Jaza

 

Jama'ah Muslimin (Hizbullah) sekarang sedang membangun rumah sakit Indonesia di Gaza bersama Mer C, yang lain yang suka berkoar koar ahlul haq mana kontribusinya kepada Palestina yang selalu ditindas Israel ?????? astaghfirullah cuma ngomong doang !!!!!!

 

assalamua'laikum..wr.wb....

ini yg buat artikel kn ikhwan dari salafi, jadi membela salafi, sekarang apa yg suidh dilakukan salafi untuk umat islam? cuma berkoar jama'ah muslimin salah?

 

salafi adalah antek zionis

 

hnfhnf

 

Salafi = Suka ALAt FItal. Sodomi.

 

Tau nie, jangan berkoar-koar doang tanpa sendirinya juga tidak ada kontribusi untuk dunia islam khususnya sekarang Palestina dalam rangka pembebasan masjdil_aqsa.

 

salafi....bagian dari yahudi........

 

وما أكثر الناس ولو حرصت بمؤمنين

 

jangan menilai khilafah dri para jamaah ny...khilafah hrus ttp d tgakkan adapun kkurangan berkaitan dgn ubudiyah n amaliyah yang ada d dlam ny itu hanya msalah manusia ny,,, yg kta sma2 ma'lum stiap mnusia ada kkurangan....bgai mna pun khilafah ttap tgak dan orang2 yg d plih alloh lah yg ada d dlm ny....

 
adi rahman malaysia

sesuatu yg haq itu pasti payah untuk kita menujui nya melainkan dgn pertolongan Allah swt.. moga2 jemaah muslimin terus komited mendakwahkan kebaikan walau pun belum punya kekuasaan..
jika satu hari nanti yg di baiat adalah dr bangsa quraisy oleh jemaah muslimin apakah salafi akur atau terus bilang ohhhh itu gk benar mas....

 
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 2
ASAL USUL SALAFI
Diera tahun 90 an berkembang tren salafi yang mengaku pengikut salaf dengan diketuai oleh Dosen Aqidah di Univ. Islam Madinah yang bernama:Syeikh Muhammad Aman Al-Jami yg berasal dari neg.Habasyah,sesuai dengan nama pendirinya kelompok ini selanjutnya disebut Al-Jamiyah. Demikian penjelasan Syeikh Abdul Aziz bin Mansyur Al-Kinani dalam kitabnya: Ar-Radd A’la A’dya’i As-Salafiyyah;Al-I’tidzar Lil Aziizil Ghoffaar Wal-Intishor Li Ahli As-sunnah Al-Abrar. Awal kemunculan tren Salafi ini pada tahun 1411/1412 H atau th 1990/1991 M, tepatnya saat terjadinya perang Teluk,yaitu disaat Iraq menginfasi Negeri Kuwait.

PENGARUH POLITIK PADA SALAFI
Pendiri Salafi yaitu Syeikh Muhammad Aman Al-Jami banyak terpengaruh oleh pemerintah Saudi Arabia dalam hal ini Dept.Dalam Negri dan Dinas Intelegent KSA dan di tahun 1411 sampai 1415 H dia berhasil membuat kerusakan dan perpecahan ditubuh ummat islam dengan mengklasifikasikan ummat dan ulama, terkecuali ulama Darul Ifta dan Hai’ah Kibarul Ulamanya mengingat Darul Ifta adalah lembaga resmi pemerintahan,kasus salafi mengklasifikasikan ummat dan ulama ini sempat dibantah oleh Syeikh Bakar Abu Zaid Rohimahullah.
Dengan menulis sebuah buku yang berjudul Tashnif An-Nas Bayna Adz-Dzon Wal Yaqin Syeikh Bakar Abu Zaid menyarankan agar ummat dan Ulama tidak terjebak dalam provokasi yang dilancarkan oleh kelompok salafi Al-Jamiyah.
PERPECAHAN ULAMA
Pada saat terjadinya infasi Iraq ke Kuwait th 90 an terjadilah polemik pada tubuh ulama mereka berpecah disaat menentukan Fatwa mana yang akan dirujuk pada saat pemerin-tah meminta kekuatan asing (Amerika)didatangkan.
1. Ulama Darul Ifta yang dipimpin oleh Asyeikh Abdul Aziz bin Abd.Rahman bin Abdullah bin Baz beserta anggota Kibarul Ulamanya: Syeikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin,
Syeikh Sholeh Ibn Ghushun,Syeikh Jibrin,Syeikh Ghodloyan,Syeikh Sholeh Fauzan ibn Fauzan,Syeikh Abdullah bin Qu’ud,bersepakat bahwa meminta tolong kepada Amerika benar ada keuntungan dan manfaat tetapi hukumnya tidak wajib.

2. Fatwa ini ditentang oleh murid-murid Syeikh Bin Baz sendiri seperti: Syeikh Safar Al-Hawali,Syeikh Salman Audah,Syeikh Aidl Al-Qorniy,Syeikh Nasir Bin Sulaiman dan Syeikh Al-Umar,Syeikh Sa’id Misfir Al-Qahthoniy,Syeikh Musa Al-Qarniy,Syeikh Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisiy,Syeikh Abdullah Al-Jalali,Syeikh Muhammad Asy-Syanqithiy,Syeikh Ahmad Al-Qaththan,Syeikh Muhammad Al-Quthub,Syeikh Abdul Majid Az-Zindani,Syeikh Abdurahman Abdul Kholiq,Syeikh AbdurRozak As-Syayaji dll mereka termasuk Ulama-Ulama Ishlah,tetapi mereka tidak berpecah dengan Masyaikh yang berada di Darul Ifta meskipun pada akhirnya mereka dipenjarakan,lalu Syeikh Bin Baz sendiri yang meminta kepada pihak kerajaan untuk mengeluarkan mereka dari penjara.

3. Lahirlah kelompok yang ketiga mereka mengatakan bahwa mendatangkan kekuatan Amerika itu Wajib merekalah ulama pemerintah,kelompok salafi yang dipimpin oleh Muhammad Aman Al-Jami,Dr.Robi’ Al-Madkhaliy,Muhammad Hadi Al-Madkhaliy,Ali Hasan Al-Halabiy Al-Atsariy,Muqbil Hadi Al-Wadh’i,Falih Al-Harbiy,Farid Al-maliki,Tarahib Ad-Dausiriy,Abdul Lathif BaSyamil,Abdul Aziz Al-askar,Sholeh AS-suhaimi,MUHAMMAD IBRAHIM SYAQRAH(bertaubat) dan merekalah yang menghujat para ulama Darul Ifta dan Ulama Ishlah.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 1
SALAFI SALAH BERGURU

TIDAK ADA MURID YANG SALAH DAN JAHAT MELAINKAN PADA GURU YANG
SALAH DAN JAHAT

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 1
SALAFI SALAH BERGURU

TIDAK ADA MURID YANG SALAH DAN JAHAT MELAINKAN PADA GURU YANG
SALAH DAN JAHAT

Ungkapan ini kita dapati pada perguruan Kungfu yang menekankan pada kemenangan diatas kebenaran,perguruan inipun mengarahkan semua anak didiknya untuk taat dan patuh pada guru yang benar dan baik yang sejalan pula dengan ilmunya yang benar dan baik,anak murid itu ibarat kertas putih yang siap dituliskan apa saja diatasnya,tulisan-nya baik maka akan terlihat baik demikian sebaliknya manakala buruk akan terlihat keburukannya.
Jauh sebelum muslimin mengenal kungfu, Islam yang mereka anut telah mengajarkan pula kepada pemeluknya untuk selalu melakukan hal yang benar dan baik,dari generasi ke generasi turun temurun hal yang benar dan baik itu tidak pernah berobah,soko guru kaum muslimin dimasa lalu yang bernama Salaf sampai zaman sekarangpun tetap salaf, mereka tidak akan pernah merubah pendirian untuk tetap selalu benar dan baik dari masa kemasa,sampai pada masa kita hidup hari ini masih dapat dijumpai,semisal pengganti imam masjidil haram setelah Syeikh Subeyyil Rahimahullah yaitu Syeikh Abdur Rahman Assudaisiy Hafidzohullahu Ta’ala dalam khutbah jum’atnya baru-baru ini tgl 18 Robiul Akhir 1434 H bertepatan dengan 1 Maret 2013 M menegaskan bahwa Ummat Islam harus bahu membahu saling membantu terutama terhadap saudaranya yg teraniaya di Palestina dan di Gaja,Mesir dan Afganistan dan beliau mengakui perjuangan mereka serta mendukungnya, Syeikh Abdur-Rahman Assudaisiy beliau adalah pengikut Salaf.
Oleh karenanya kalau tiba-tiba ada yang mengaku pengikut salaf tetapi perangainya tidak mencerminkan orang-orang salaf maka siapapun dia patut untuk di curigai.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 3
PERANGAI SALAFI
Kata-kata kasar mereka(kaum salafi)akan dicatat sejarah,saat mereka berdawah dengan serampangan,semena-mena,menebar tuduhan,mencela,dan memberikan embel-embel yang tidak senonoh terhadap orang yang tidak bergabung dengan kelompok mereka,bahkan terhadap sesama kelompok merekapun terjadi fitnah memfitnah.
Nampaknya sudah terbiasa bagi mereka mengatakan Ustadz Perlente,Kalbun min Kilabin Nar,ahli hadas bukan ahli hadits,khowarij,bughot,sururiy,kepada siapapun terlebih kepada Dai’ yang mengusahakan tegaknya Syariat Allah,mengalir dari mulut mereka cercaan,makian,fitnahan dengan tanpa menyesal sedikitpun,apalagi kepada saudara-saudara kita di Mesir seperti: Sayyid Qutb,Hasan Al-Banna,Dr.Abdullah Azam ulama Palestina yg syahid di Afganistan,jadi bulan-bulanan mereka dicerca habis.
Padahal Syeikh Bin Baz Rahimahullah Ta’ala ketika Sayid Qutb akan digantung beliau mengirimkan surat kepada presiden Gamal Abdul Naser untuk memaafkannya bahkan beliau mengatakan-andaikata Mesir tanpa Sayid Qutb apa jadinya?.
Juga Syeikh Utsaimin Rahimahullahu menyindir kelompok salafiyyun dengan kata-kata beliau:Hari ini ada sekelompok manusia mencari-cari kesalahan para Dai’ dan Ulama lalu diekspos besar-besaran dan ironisnya mereka tidak pernah melihat kebaikan-keba-ikan Dai’ dan Ulama yang bersangkutan padahal kebaikan mereka berlipat ganda bila dibandingkan dengan kesalahan mereka,kata-kata beliau tertuang dalan kitab(Al-Watsa’iq Al-Jaliyyah hal. 43).
Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani Rahimahullah amat tidak suka kepada orang yang terlalu mempersoalkan Sayid Qutb,bahkan beliau mengatakan Sayid Qutb adalah Dai’ yang menyemangati Da’wah dan Jihad dan beliau juga memuji tulisan Sayid Qutb dalam kitab : Al-A’dalah Al-Ijtimaiyyah.
Dan ketika Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani ditanya tentang beberapa tokoh ulama yang melakukan beberapa kesalahan dalam Aqidah seperti : Imam An-Nawawi,-Ibnu Hajar,dan Sayid Qutb Syeikh Albani berkata: “Hari ini siapa yang semisal An-Nawawi dan Ibnu Hajar? Beri tahu saya segera”, Dan tentang Sayid Qutb :”Jangan kalian ungkit-ungkit.Dia adalah laki-laki yang kita hargai atas Jihadnya.”(Al-Watsa’iq Al-Jaliyah
Hal :49).
Syeikh panutan salafi Dr.Robi’ Al-Madkhali telah dinasehati oleh Ulama besar Saudi Arabia Syeikh DR.Bakar Abu Zaid bahkan beliau menulis buku pembelaan terhadap Sayid Qutb yang berjudul Al-Khithob Ad-Dzahabiy, lagi-lagi Dr.Robi congkak tidak mau menerimanya. Sungguh amat disayangkan,semoga Allah Memberi Hidayah kpd mereka.
Yang sungguh mengherankan ketika kaum salafi menjadikan ulama: Syeikh Bin Baz,Sye-eikh Utsaimin,Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani,sebagai rujukan mereka,tetapi -justru Fatwa-Fatwanya banyak yang tidak dipakai,terkecuali fatwa yg mendukung mrk.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 4
ARTI SALAFU SHALEH
Banyak ungkapan ulama disekitar Salafu Shaleh,namun ringkasnya ada dua istilah yang masyhur : Zaman (waktu) dan Manhaj (metode).
a. Zaman : suatu masa yang hidup didalamnya 3(tiga)masa Kurun terbaik,Kurun para Sahabat,Kurun para Tabi’in dan Kurun Tabi’ut Tabi’in.
b. Manhaj maksudnya: Metode yang digunakan oleh 3(tiga)kurun waktu terbaik didalam memahami dan memperjuangkan Dienul Islam,oleh karenanya kapanp-un dimanapun dari ummat ini yang dalam hidupnya memahami dan memperju-angkan Dienul Islam sama seperti mereka, maka berhak dikatakan Salafu shaleh.(Al-Madkhol, Dr.Buraikan).

UNGKAPAN ULAMA TENTANG SALAFI ATAU ATSARI.

Sebagian ulama termasuk didalamnya Syeikh Muhammad Nasirudddin Al-Albaniy membolehkan penggunaan istilah salafi. Namun karena adanya penyimpangan akhlaq dan aqidah dari sebagian mereka yang menamakan dirinya dengan salafi,akhirnya ulama tidak menyukai penggunaan istilah ini,semisal :

Syeikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin mengatakan: Suatu yang tidak bisa disangkal bahwa,kewajiban ummat islam adalah untuk mengikuti Madzhab Salaf dan menjadikan madzhab mereka adalah madzhab Salaf,dan tidak ada keharusan untuk Ber-Intima’ atau berkomitmen pada kelompok tertentu semisal salafiyun,atau bertahazzub kepada salafiyun,karena dikhawatirkan akan ada dua jalan/metode pertama As-Salaf(umat terdahulu) dan kedua Hizb(kelompok) atau salafiyun,padahal yang dituntut adalah Ittiba’(mengikuti) Salaf (umat terdahulu).Dikutip dari Syarah Arbain Nawawiyah hadits ke 28,demikian pula Syeikh Dr.Sholeh Fauzan ibn Fauzan tidak menyukai penamaan ini (lih.Beda Salaf dengan Salafi,hal.141).

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 5
BAHAYA AQIDAH MURJIAH YANG DIANUT KEL.SALAFIYUN.

Selanjutnya berikut ini cacatan untuk salafiyun yang beraqidah murjiah yang begitu berbahaya dan meresahkan ummat islam dewasa ini dan menjadi benalu dalam menegakan Islam
a. Pada perkara Iman dan Kufur
Ali Hasan Al-Halaby,seorang dai’ panutan salafi yang sering bertandang ke indonesia dia sudah dicap pendusta oleh banyak ulama di Saudi Arabia karena dia senang membajak dan merubah pernyataan ulama—sebagaimana dinyatakan oleh Dewan Fatwa Lajnah Ad-Daimah,dalam Fatwa no.21517—dia mengatakan bahwa kufur hanya ada dua; Juhud(pengingkaran) dan Kidzib(pendustaan)..(lih.pengantarnya di attahdziir min fitnati takfir.)
Konsekwensinya,berarti setiap pelanggaran terhadap Syariat Allah SWT,termas-uk mencela Rasul atau melecehkan Al-Qur’an,pelakunya tidak bisa dikatakan kafir karena dia tidak mendustakan dan mengingkari Allah dan Rasul,lalu apa bedanya kel. Ini dengan kel. Liberal.
Pembagian Kekufuran seperti ini jelas merupakan Aqidah Murjiah,sebagaimana dinyatakan oleh Lajnah Ad-Daimah dalam fatwa no.21517 (lih.Attahdzir Minal Irja’.Hal. 26).
Dapat kita bandingkan dengan pernyataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab “adapun kufur amal,diantaranya ada yang bertentangan dengan iman,seperti : sujud kepada patung,menghinakan Al-qur’an,membunuh Nabi serta mencelanya..” (Ad-Durar, 1/480)
b. Berhukum kepada hukum Allah SWT.

Kebiasaan buruk dari salafiyun adalah menganggap remeh terhadap hukum Allah SWT,dan kepada Dai’ yang mengajak untuk menegakan SYARIAT Allah dengan sadis mereka mengatakan Khowarij Bughot halal darahnya ditumpahkan.

Bandingkan pendapat mereka dengan pendapat ulama tentang berhukum kepada selain hukum Allah SWT;

1. Ibnu Taimiyah berkata,”Ketika seseorang menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh ijma’ atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh ijma’atau menggantikan syariat yang telah ditetapkan secara ijma’,maka dia kafir dan murtad berdasarkan ijma’ “ (Majmu Fatawa, jilid lll/267. Realitanya sudah berapa banyak syariat islam yang digantikan oleh undang-undang skuler.
2. Ibnul Qoyyim Azzaujiyyah berkata : “Setiap orang yang berhukum atau menghukumi dengan selain hukum Allah SWT,atau hukum yang dibawa oleh Rasulullah SAW berarti dia telah menegakan hukum thogut dan dia telah berhukum kepada thogut “ (I’lamul Muwaqqi’iin, 1/53).
3. Syeikh Asy-Syanqithi berkata : “.......lewat nash-nash yang telah kami sebutkan tadi,maka jelaslah sudah bahwa setiap orang yang mengikuti undang-undang positip yang diwahyukan oleh setan lewat lisan para walinya dari kalangan manusia,yang menyelisihi syariat Allah SWT yang diwahyukan lewat lisan para Rasulnya,maka tidak diragukan lagi kekafiran dan kesyirikannya.Dan yang ragu hanyalah orang-orang yang telah Allah butakan matahatinya dari cahaya wahyu,..dan menerapkan undang-undang dalam kehidupan adalah kekafiran.....”(Adhwa’ul Bayan, 4/83—84).
4. Imam Ibnu Katsir menukil Ijma’ atas kekafiran setiap orang yang mmenerapkan undang-undang yang menyelisihi Syariat Islam. (lih.Al-Bidayah wan Nihayah,13/119), Mufti dan ahli Hadits Mesir yang terkenal,Syeikh Ahmad Syakir berkata “ Permasalahan yang harus dipastikan,bahwa penerapan undang-undang positip merupakan kufrun bawwah-kekafiran yang nyata. Kekafirannya sejelas matahari disiang hari bolong.”(Umdatu Tafsir, 2/172).

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 6
c. Mengkritik Penguasa dan Khowarij.
Ciri khas yang lain dari salafiyun adalah mendaulat siapapun yang mengkritik pemerintah/penguasa skuler dengan gelar Khowarij. Menurut mereka siapapun yang mengkritik dan menentang pemerintah,betapapun pemerintah itu rusak dan kufurnya sistem yang dijalankan,dia adalah khowarij,tanpa melihat alasan orang yang mengkritiknya.
Benarkah demikian sikap Salafu shaleh...?
Sudah tentu jawabannya tidak,Sejarah mencacat : Ketika Mu’awiyah mengkritik bahkan memerangi Ali bin Abi Tholib,yang saat itu menjadi kholifah yang sah.Demikian juga Ibunda A’isyah RDA mengkritik dan mengangkat senjata melawan Ali bin Abi Tholib,terlepas dari apa penyebabnya dan dari siapa yang benar atau yang salah,tidak satupun ulama yang berani mengatakan bahwa Mua’wiyah dan A’isyah adalah Khowarij !
Demikian pula Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab berperang melawan penguasa Turki, tidak ada ulama yang mengatakan bahwa dia khowarij apalagi bughot. Begitu juga kejadian pada th 83 H,disaat sebanyak 100.000 penduduk Basyrah dan Kufah berkumpul melawan Abdul Malik bin Marwan dan panglimanya Hajjaj,bahkan beberapa Ulama ikut serta dalam perlawanan tersebut,seperti : Sai’d bin Jubeir, Asy-Sya’bi,Hasan Al-Basyri dan Muslim bin Yasar,tidak ada yang mengatakan bahwa semua penduduk dan ulama yang ikut saat itu dicap khowarij. Terakhir sebagai contoh saja,Penguasa Abbasiyah menggulingkan penguasa Bani Umayyah,belum ada sampai sekarang yang berani mencap mereka khowarij,dan andaikata pihak salafiyun berkeinginan mengkhowarijkan mereka,dipersilahkan,tetapi kemukakan dulu alasan dan hujjahnya.
d. Pemahaman neg.Kafir dan neg. Muslim versi salafiyun.
Menurut mereka dasar menghukumi negara islam itu berdasarkan Syi’ar islam bukan hukum islam yang berlaku. Maka neg. Manapun yang ada syi’ar islam didalamnya itulah neg. Islam dan pemimpinnya adalah Amirul mu’minin.
Indah nian pendapat ini,sekolah dimana mereka sehingga bisa berpendapat seperti ini,siapa gerangan TUAN GURUNYA, bisa-bisa neg. Barat adalah neg. Islam,sebab disana sudah ada syi’ar islam,demikian mereka berpendapat,padahal ulama muslim bersepakat untuk menghukumi neg. Itu islam atau kafir jelas dengan Hukum Islam yang berlaku.
Pendapat mereka itu layak sekali untuk dihadapkan pada mahkamah kesepakatan Ulama Muslim tujuannya adalah agar mata-mata mereka melek dengan kenyataan,kalau mereka masih mengaku Muslim,kesepakatan ulama muslim dibawah ini :
1. Ibnul Qoyyim berkata : “Mayoritas ulama mengatakan bahwa Daarul Islam adalah Neg.yang dikuasai oleh Ummat Islam dan hukum-hukum Islam diberlakukan di Neg. Tersebut,dan bila hukum –hukum islam tidak diberlakukan disana maka bukan merupakan Daarul Islam,sekalipun neg. Itu berdampingan dengan Daarul Islam. Contohnya Thoif,sekalipun letaknya dekat dengan Makkah,namun dengan terjadinya Fathu Makkah,Thoif tidak berubah menjadi Daarul Islam (ahkam ahlu dzimmah 1/366).
2. Asy-Syu-aukani berkata : “ Bisanya Neg. Dikatakan kafir/islam adalah dengan adanya zhuhur kalimah (hukum yang ditegakan),jika kekuasaan memerintah atau melarang dalam sebuah negri dibawah kendali muslim,dimana orang-orang kafir tidak dapat menampakan atau mempertunjukan kekafirannya,melainkan atas idzin kaum muslimin,maka negara tersebut negara Islam.
Adanya tanda-tanda (simbol) kekafiran di neg. Itu tidak akan berpengaruh kepada nama negeri Islam itu,mengapa ?. Karena keberadaan simbol-simbol itu dimunculkan bukan karena oleh kekuatan mereka, tetapi oleh karena ada idzin dari kaum muslimin”. Seperti kebanyakan contoh orang-orang kafir yang hidup di beberapa neg.muslim sekarang. Sebaliknya jika keadaan sebuah neg.tidak seperti keterangan diatas maka neg. Itu jelas neg.Kafir “. (As-Sailal-jarror,4/575).

Maka akhir dari perhelatan selama ini,Ummat akan tahu dan akan bisa menilai,siapa pengemban dawah Salafu Shaleh sejati,dan siapa sesungguhnya salafi imitasi alias bohongan. Wallahu A’lam Bishowaab.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 7
SOAL TAHJIIR

Ini bukan wilayah kita tholabatul ilmi(pelajar),masalah ini adalah hak ulama yang betul-betul mengerti akan kesalahan yang harus diluruskan,Tahjiir yang dimaksudkanpun tujuannya bukan untuk memojokan,menghina,atau sejenisnya tetapi untuk teguran dan nasehat untuk kembali ke jalan yang diRidloi Allah SWT.

AL-JARHU WAT TA’DIILU

Secara singkat saja mengutip komentar Syeikh Abdullah bin Hasan Al-Qu’ud tentang Al-Jarhu wat Ta’diilu,dahulu dizamannya jarhu dan ta’dil itu digunakan untuk menentukan hadits,apakah didalamnya ada cacat atau tidak,ketika didapati kecacatan maka dibuang kemudian hadits itu diluruskan,tetapi zaman sekarang jarhu dan ta’dilu itu dimanfaatkan untuk saling menyerang,mencela,menjatuhkan martabat,menghilangkan kehormatan para Alim Ulama,demikian Syeikh Abdullah bin Hasan Al-Qu’ud menyayangkan kegegabahan mereka salafiyun ketika menggunakan istilah Al-Jarhu Wat Ta’diilu di kalangan mereka.

Berkaitan dengan istilah “ sururiyuun” yang sering mereka tuduhkan, saat beliau ditanya tentang kalimat itu Syeikh Qu’ud menjawab : “ Sururiyyuun, dari mana istilah ini datang kepada kita ?. Silahkan tuan-tuan periksa dikamus-kamus bahasa Arab atau di buku-buku kamus sekte-sekte agama(al-milal wan-nihal),silahkan periksa dikitab mana kalimat “sururiyuun” ini kita temukan ?.
Benar,jika yang dimaksud ketika seseorang mendapatkan kesenangan/kebahagiaan dari ni’mat Allah yang dikaruniakannya berupa ilmu,aqidah yang benar,maka ini adalah ungkapan dan istilah yang benar dan semua kita berharap kepada Allah agar kita dimasukan kedalam kelompok Sururiyuun dengan ma’na ini(gembira atas limpahan ni’mat dan karunia Allah SWT), dikutip dari Muhadhoroh Syeikh berjudul Washoyaa lid Dua’t Juz,ll.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 8
ULAMA DARUL IFTA JANGAN DIJADIKAN SARANA PEREKRUTAN.

Khususnya di Indonesia tidak banyak yang mengerti tentang DARUL IFTA Dan salafi,anggapan selama ini salafi diproduk oleh Darul Ifta,justru sangat bertentangan jauh sekali,ulama-ulama rujukan salafi justru menjadi rival ulama Darul Ifta kalau mahu tahu,sayangnya saksi hidup tidak banyak,kurang lebih 10 th saya hidup di Saudi Arabia bersama para ulama Darul Ifta,terutama Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baz,bahkan ketika Syeikh meninggalpun saya masih disana tahun 1999 M, dan saya menetap dirumah Syeikh Abdullah bin Ad-Duayyan dan ketika Syeikh Ibn Qu’ud sakitpun saya masih sempat mengunjunginya beliau punya sopir bernama Syamsuddin dari Sukabumi bersama istrinya.
Di even kegiatan salafi selalu dipampang Guru-Guru saya itu besar-besar,entah apa tujuannya, yang pasti itu adalah kedok perekrutan agar orang-orang Indonesia yang tidak mengerti keadaan yang sesungguhnya mengganggap bahwa Syeikh-syeikh Darul Ifta pun dibelakang mereka. Ini adalah sebuah pengkhianatan kepada ulama Darul Ifta mengingat begitu banyak perbedaan da’wah mereka dengan Darul Ifta.

AKHIR YANG TRAGIS. APAKAH AZAB YANG DISEGERAKAN ?

Muhammad Aman Al-Jami akhirnya mati karena sakit kanker mulut,sebuah akhir yang sangat tragis. Sepeninggalnya,Rabi’ Al-Madkhali menjadi tokoh utama penerusnya. Tidak ada yang menyainginya selain Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i di Yaman,seorang syeikh salafi yang pernah mengomentari ulama Iraq yang terkenal dan pengarang Kitab Ushul Ad-Da’wah,Dr.Abdul Karim Zaidan,dengan ungkapan yang sangat tidak masuk diakal dan sangat menyakitkan “ Sesungguhnya Ilmunya adalah sampah “, demikianlah generasi salafiyun ketika berbicara semaunya saja,namun Do’a kita baik untuk mereka : “Semoga Mereka mendapat Hidayah Allah sebelum mereka meninggalkan dunia ini,”.
Kalaupun tidak, apakah mereka menginginkan azabnya disegerakan ?. Wallahua’lam.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 9
KONFLIK INTERNAL GERAKAN “SALAFI”

Siapa sangka ditubuh mereka kaum salafi tidak ada perpecahan?. Justru karena mereka berebut ummat dan memperturutkan hawa nafsu akhirnya mereka berpecah. Terlebih ketika ulama yang menjadi musuhnya sudah banyak dipenjara,dan tidak ada lagi yang berani menentang negara. Mulailah kelompok ini (al-jamiah) menoleh pada diri mereka sendiri. Mereka mulai menetapkan dasar-dasar madzhab mereka,lalu muncullah berbagai buku karangan mereka untuk membela madzhabnya,dari sinilah awal timbulnya perbedaan pendapat dan perpecahan,lalu saling menyerang mereka terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok dan tragisnya masing-masing kelompok membid’ahkan kelompok yang lainnya.

Perpecahan yang pertama terjadi pada kel.sempalan mereka Al-Hadadiyah,tokohnya adalah Mahmud Al-Hadad yang mengajak pengikutnya untuk membakar kitab-kitab ulama terdahulu seperti Ibnu Hazm,An-Nawawi,Ibnu Hajar dll. Menurut Al-Hadad mereka semua adalah ahli bid’ah sehingga wajib untuk dijauhi. Perkara ini memancing pro dan kontra yang akhirnya kel.ini tidak lama berkembang di Hijaz belakangan ini berkembang di Yaman,Mesir dan kelompoknya,ironisnya dengan perpecahan mereka masih mengklaim diri paling salafi,mengaku sebagai representasi Salaf Shaleh sejati,dan menuduh yang lainnya sebagai firqoh dan sesat. Kalau saja mereka mengaca sedikit,mungkin akan merasa malu mengaku diri paling salafi sebagai pengikut salaf shaleh sejati,Naudzubillah Min Dzalika.

 

Penulis : Umar Rasid Hasan
Bag : 10
ULASAN

Andaikan kita merujuk dengan baik Fatwa Lajnah Ad-Daimah no. 20212. Tgl 7/2/1419 H dan fatwa no. 21517 tgl 14/6/1421 H atau kita menoleh fatwa Syeikhul Islam ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 3/216. Terhadap apa yang telah mereka lakukan selama ini,dengan Ta’ashub mereka terhadap guru-guru mereka serta mengkultuskannya,jelas sekali pernyataan Syeikhul Islam ibn Taimiyah Rahimahullah Ta’ala bahwa mereka salafiyun termasuk ahlu bid’ah yang sesat dan Tafarruq(pemecah belah ummat),sekali lagi,jelaslah sudah menurut Ibn Taimiyah siapa sebenarnya gerakan “salafiyun” ini.

Ketika kaum salafiyun ini menolak jihad dan menganggap tidak penting ,bukankah itu bertolak belakang dengan kesepakatan ulama,dalam urusan jihad mereka selalu menunggu komando dari Amir,,,,,,,,Amir yang mana yang mereka tunggu?. Pemerintah skuler ? . Mana mungkin mereka menyuruh jihad!!! Sungguh aneh bin ajaib bukan ?

Coba kita simak Ibnu Qudamah dalam al-mughni VIII/353 yang mengatakan :

“ Maka jikalau Imam tidak ada,jihad tidak boleh ditunda,sebab dengan menunda jihad maslahatnya akan hilang,Jika terpaksa jihad dilakukan tanpa imam dan mendapatkan Ghonimah(harta rampasan perang), maka ghonimah itu dibagikan oleh orang yang ahli sesuai dengan tuntunan Syariat”.

Inilah sekilas gambaran pemikiran gerakan Murjiah Ekstrim,yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah sebuah perkara remeh temeh,padahal disisi Allah SWT itu sebuah perkara Dosa yang sangat besar. Wallahua’lam.

Sebagai contoh:
Semisal Andalusia (spanyol) yang diambil oleh tentara salib di th 1492 M dan Palestina oleh Israel di th 1917 M,lalu ditegakan Negara Israel tahun 1948 M,Jihad untuk merebut kembali kedua negara milik kita itu hukumnya adalah : Fardlu Ai’n bagi seluruh Muslim.
Tidak seperti pendapat Syeikh Muhammad Ibrahim bin Syaqrah memahami surat Al-Anfal : 60. Dia bilang : Saat kita lemah seperti sekarang,lebih baik diam menahan diri dari berjihad,Naudzubillah.

Kitab Rujukan dan Sumber lainnya :

1. Saksi hidup langsung dengan Darul Ifta dari thn 1989 akhir s/d 2001 meskipun berpindah Kafil dari Syeikh Abdul Aziz bin Nasir bin Baz(Mustasyar fi Daril Ifta) kepada Syeikh Abdullah bin Ali Ad-Duayyaan(Riasah Ta’limil Banat)
2. Fatwa Lajnah Ad-Daimah no. 20212 dan 21517
3. Al-Milal Wan-Nihal
4. As-Sail Al-Jarror
5. Umdatu At-Tafsir
6. Al-Mughny
7. Ahkam Ahlu Dzimmah
8. Ar-Radd A’la Ad-ya’i Salafiyah
9. Al-Watsai’q Al-Jaliyah
10. Al-Madkhol
11. Beda Salaf dan Salafi
12. At-Tahdzir minal Irja’
13. Ad-Durar
14. Majmu Fatawa
15. I’lamul Muwaqii’n
16. Bidayah Wan-Nihayah
17. Adhwaul Bayan dll.

 

Kepada Yth. Akhi Abu Salma,
Kalau Akhi sungguh2 ingin meluruskan Jama'ah Muslimin dengan ikhlash kerana mencari keridhoan Allah SWT, dipersilahkan untuk datang ke markas Cileungsi, Bogor untuk adu hujjah. Di sana Abu Salma akan dilayani dengan baik dan permasalahan serta syubhat2 yang ada akan dibahas secara ilmiah berdasarkan al-Qur'an dan al-Sunnah dan pemahaman salafus sholeh secara tuntas.
Abu Qoyyim

 

Kepada Akhi Abu Salma yang semoga rahmat Alloh SWT tercurahkan selalu

Memperhatikan pendapat yang muncul dalam tulisan mengenai "BERBANTAH-BANTAHAN", kami sangat sedih sekali, semoga kita dapat mengembalikan setiap permasalahan kepada AL-QUR'AN dan AS-SUNNAH. Karena melalui kedua PUSAKA tersebut, Nabi Muhammad SAW berwasiat.
Kami menyadari kelemahan dalam ILMU, maka marilah kita RUJU' dalam Majelis dengan HATI YANG IKHLAS dalam menetapi KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA HANYA MILIK ALLOH SWT semata.
Dengan iringan do'a, semoga ummat Islam yang tercerai berai dapat berhimpun dalam wadah yang HAQ dan memiliki KEKUATAN untuk mengahadapi MUSUH-MUSUH ISLAM dan mengembalikan KEJAYAAN ISLAM WAL MUSLIMIN. Amin.

Dari al-FAQR

 

katanya umat islam, tapi ko mencibir ! Gelar ulama yang di dapat Wali Alfatah itu di dapat dari ulama ulama besar dan salah satunya pemimpin (benar) salafi. tapi seiring berjalanya waktu kaum salafi malah mungkar dari pemimpin mereka hingga sekarang. lihat saja nyatanya. penulis artikel ini adalah orang yang membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

 

Saya dahulunya adalah ikhwan jamus (jamaah muslimin), dulu saya orang paling berontak terhadap dakwah salafi, namun, bi
idznillah, ketika saya merenungkan tentang per khilafahan, hati saya bergetar, saya mulai ragu terhadap jamus, apalagi imam mereka mengatakan, di luar anggota kelompok jamus adalah orang kafir atau yg keluar dr jamus itu adalah murtad maka spontan saya berfikir, padahal rasul tidak menganjurkan untuk berfirqah2.(Man kafaro fahuwa kafir) Tetapi anggota2 jamus semakin hebat dalam pemikiran taqfiri mereka. Akhirnya murni dg pemikiran saya, saya keluar dan bertobat kpd Allah dr firqoh JAMUS. Jika kalian mendengarkan dakwah salaf atau kajian salaf, sungguh indahnya ajaran mereka yg memurnikan tauhid dan kembali pada salafus sholeh. Saya tidak mengarang cerita ini.

 

Jamus yang mana jamus majalaya, cilengsi ,jamus pdi atau solo juga ada yang aqidah seperti itu atau klten atau lampung semuanya mengaku punya imam dan berbai'at kepadanya.

 

Jamus yang mana jamus majalaya, cilengsi ,jamus pdi atau solo juga ada yang aqidah seperti itu atau klten atau lampung semuanya mengaku punya imam dan berbai'at kepadanya.

 

Poskan Komentar